Wacana Bahasa Indonesia

Wacana Bahasa Indonesia 4.73/5 (94.53%) 170 votes

Pada umumnya, Wacana Bahasa Indonesia secara mendasar merupakan sebuah pemahaman pada teks yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat bahasa untuk komunikasi dengan informasi utuh dan lengkap . Wacana yang utuh itu seharusnya dapat dipertimbangkan dari sudut isinya yang koheren serta kohensif dan pula dengan dipertimbangkan dari segi tuntutan adanya unsur pendukung.

Dari pengertian wacana yang dipergunakan sebagai suatu rangkaian ujar atau tindak tutur yang bisa mengungkapkan suatu hal dan disajikan dengan teratur, sistematis, serta dibentuk oleh unsur segmental maupun non segmental terhadap bahasa. Untuk lebih jauhnya pengertian wacana itu sendiri dapat dibatasi dari dua sudut berlainan. Pertama adalah dari sudut bentuk bahasanya dan yang  kedua sudut tujuan umum dengan sebuah karangan utuh atau sebagai bentuk berkenaan sebuah komposisi.  Dari sudut bentuk bahasa atau yang berkaitan dengan hierarki bahasa, maka yang dimaksud dengan wacana adalah sebuah satuan bahasa dengan di atas tataran kalimat yang digunakan untuk dapat berkomunikasi dalam konteks sosial.

Maka satuan bahasa itu berupa rangkaian kalimat. Wacana bisa berbentuk lisan atau tertulis serta dapat pula bersifat transaksional atau interaksional. Sehingga dalam peristiwa komunikasi yang secara lisan, dapat dilihat dan dinyatakan bahwa wacana tersebut sebagai rangkaian proses komunikasi antar si penyapa dan yang disapa atau pesapa, sedangkan untuk dalam komunikasi yang secara tertulis, wacana bisa terlihat sebagai hasil dari pengungkapan gagasan si penyapa.

 Jenis Wacana Bahasa Indonesia

  • Berdasarkan saluran digunakan untuk berkomunikasi

Menurut saluran untuk saling komunikasi maka Wacana Bahasa Indonesia dapat dibedakan menjadi dua jenis , yaitu  wacana tulis dan wacana lisan. Wacana lisan sungguh berbeda dari wacana tulis. Hal ini disebabkan karena wacana lisan tersebut cenderung kurang memiliki susunan yang lebih terstruktur , jarang dalam menggunakan alat kohesi, adanya frasa benda yang tidak panjang, serta berstruktur denan topik-komen. Dan sebaliknya bahwa wacana tulis memiliki kecenderungan gramatikal, penataan subordinatifnya lebih banyak, memakai alat kohesi atau piranti hubung , frasa benda yang panjang, serta berstruktur subjek-predikat (SP).

Wacana Bahasa Indonesia

Wacana Bahasa Indonesia

  • Berdasarkan jumlah peserta yang berkenaan pada pembicaraan

Menurut jumlah pesertanya yang berkaitan dengan pembicaraan maka ada tiga jenis wacana, yaitu wacana monolog, polilog, dan dialog. Jika berkomunikasi hanya ada satu pembicara dan tidak ada balikan atau arahan secara langsung dari peserta lain (adanya respon), maka wacana tersebut dikenal dengan nama monolog. Dengan demikian, pembicara pun tidak dapat berganti peran sebagai pendengar. Jika peserta saat berkomunikasi itu ada dua orang dan terjadi pergantian peran atau adanya dari pembicara menjadi pendengar dan juga sebaliknya, maka wacana itu dikatakan sebagai dialog. Sedangkan apabila peserta dalam berkomunikasi ada lebih dari dua orang peserta serta terjadinya pergantian adanya suatu peran, maka wacana tersebut dikatakan sebagai polilog.

  • Berdasarkan bentuk wacana

Menurut bentuk Wacana Bahasa Indonesia ini maka terdapat lima wacana yaitu wacana deskripsi, narasi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi.

1)      Wacana Deskripsi

Deskripsi merupakan rangkaian karangan yang mendeskripsikan suatu objek sesuai dengan hasil pengamatan, pengalaman, perasaan oleh penulisnya. Ketika mencapai kesan maksimal bagi pembaca, maka penulis akan merinci objek dengan kesan, model serta faktanya. Adapun dilihat mengenai sifat objeknya bahwa deskripsi dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu deskripsi Imajinatif dan deskripsi faktual.

2)      Wacana Narasi

Narasi merupakan bentuk cerita yang sesuai penempatan urutannya terhadap suatu peristiwa. Pada Wacana Bahasa Indonesia ini mengandung sebuah cerita. Karangan tersebut dapat berbentuk narasi imajinatif dan narasi ekspositoris. Yang menjadi unsur-unsur utama dalam narasi ini yaitu seperti kejadian, konflik, tokoh, alur, serta latar tempat, latar waktu atau latar suasana. Pada aspek kejiwaan yang bisa mencerna dan mengkaji wacana narasi yaitu akan sebuah emosi.

3)      Wacana Eksposisi

Eksposisi merupakan bentuk karangan yang menjelaskan secara terperinci berkenaan sesuatu dengan tujuan yang memberikan informasi serta mengkaji secara lebih luas tentang pengetahuan pada pembacanya. Jenis karangan ini juga menerangkan akan sesuatu hal terhadap penerima agar supaya pihak yang terlibat dapat memahaminya. Biasanya karangan ini pula digunakan terhadap karya-karya ilmiah misalnya artikel ilmiah, lokakarya, simposium, atau makalah untuk seminar.Untuk tahap menulis karangan ini yakni dengan menentukan objek pengamatannya, tujuan dan pola penyajian, mengumpulkan data, merincikan kerangka karangannya, serta  mengembangkan pola kerangka menjadi sebuah karangan. Mengenai wacana eksposisi dapat berupa seperti logika dan konsep yang harus diikuti.

4) Wacana Argumentasi

Argumentasi merupakan bentuk Wacana Bahasa Indonesia atau karangan berupa pendapat, penilaian atau sikap terhadap perihal yang disertai dengan alasan, pernyataan logis, dan bukti-bukti. Tujuan karangan ini adalah untuk berusaha meyakinkan kepada pembaca akan suatu kebenaran berkenaan pendapat pengarang. Rincian pada tahap menulis karangan argumentasi ini yaitu dengan menentukan tema masalah, merumuskan tujuan penulisan, mengumpulkan data yang berupa bukti, fakta, atau pernyataan bersifat mendukung, menyusun kerangka karangan, serta mengembangkan kerangka menjadi karangan.

5)      Wacana persuasi

Persuasi merupakan bentuk wacana yang berperan untuk mempengaruhi penerima pesan agar dapat melakukan tindakan berdasarkan dengan yang diharapkan kepada si penyampai pesan. Dengan demikian untuk mempengaruhinya, karangan tersebut dapat digunakan dengan segala upaya yang cenderung si penerima pesan menjadi terpengaruh. Maka untuk mencapai tujuan tersebut, jenis wacana  terkadang menggunakan alasan yang tidak sesuai pada pola pikir yang ada atau bersifat tidak rasional sehingga penerima pesan dapat segera mengambil tindakan.

Tweet about this on Twitter0Share on Facebook0Share on Google+0Share on Reddit0Share on StumbleUpon0Share on Tumblr

Nurul Ismhi